Beranda
CeleBio
Berita

1st International Maleo Conference

Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga

Belajar dan Bermain di Alam

Pendidikan Keragaman Hayati untuk Siswa SMA se Kotamobagu

Maleo 4000
Download sekarang

Ingin tahu lebih jauh mengenai Maleo? Silahkan download booklet dan poster mengenai Maleo dan usaha konservasinya di Sulawesi.

Booklet: konservasi Maelo

 

 
Poster Maleo
     

Yaki PDF Print E-mail
Spesies dan Habitat - Spesies
Yaki, Macaca nigra
 Foto: Riza Marlon, WCS

Sejarah Alam

Yaki (Macaca nigra) atau Monyet berjambul sulawesi merupakan jenis monyet endemik Sulawesi Utara. Populasinya hanya terdapat mulai dari ujung timur laut Sulawesi hingga ke dekat Kotamobagu. Tubuhnya berwarna hitam seluruhnya, kecuali pada bagian pantat yang disebut inchial callosities yang berwarna kemerahan. Panjang kepala dan badan binatang dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya bervariasi antara 4 hingga 11 kg. Yaki hidup secara berkelompok. Besar kelompoknya antara 5 sampai 10 ekor. Kelompok yang besar biasanya terdiri atas beberapa pejantan dengan banyak betina dewasa. Perbandingannya adalah satu pejantan untuk kira-kira 3 ekor betina.

Yaki adalah pemakan buah, disamping juga serangga.  Tapi buah adalah yang utama.  Lebih dari setengah menu hariannya terdiri dari buah.  Buah yang paling digemarinya adalah dari jenis-jenis beringin (Ficus benjamina, F. caulocarpa, F. drupacea), Rao (Dracontomeolon dao), dan Kananga (Cananga odorata).  Di bagian hutan yang lebih bersemak, mereka makan banyak buah Sirih (Piper aduncum) dan serangga (seperti jangkrik dan kumbang).  Yaki juga dikenal dikenal sebagai penjarah tanaman pertanian dan suka makan jagung, pepaya, mangga, dan kelapa.

Semenanjung Sulawesi Utara memiliki tiga jenis yaki, yaitu Macaca nigra (terdapat di semenanjung utara), M. nigrescens (terdapat didaerah kabupaten Bollang Mongondow), dan M. hecki.

Status

Di antara tiga jenis Macaca di Sulawesi bagian utara, Yaki (Macaca nigra) adalah yang paling terancam.  Mereka paling banyak dijumpai di Cagar Alam Tangkoko-Duasudara.  Tapi sekarang, jumlah mereka di kawasan ini sedang merosot dengan cepat, yakni dari 300 ekor/km2 pada tahun 1980 menjadi 58 ekor/km2 pada tahun 1995.  Ini berarti bahwa hanya dalam jangka waktu 15 tahun telah terjadi pengurangan sebesar 75%.  Di Suaka Margasatwa Manembo-nembo populasi mereka juga menurun.  Antara tahun 1988 dan 1995, penurunan yang terjadi dalah sebesar 40%.

Ancaman paling utama bagi binatang ini adalah perburuan.  Yaki diburu untuk dimakan dalam pesta atau perayaan, dan juga dijual di pasar.  Pasar-pasar daging satwa liar yang utama terdapat di Imandi, Langowan, Kawangkoan, Tompasobaru, Tomohon, Bitung, dan Manado.  Selain itu, monyet juga diburu oleh petani untuk dimakan serta untuk melindungi kebun dari gangguan.  Hasil-hasil survey kami di dalam hutan menemukan jerat dan perangkap binatang dimana-mana.  Yaki adalah sasaran pengkapan yang paling utama karena dagingnya dapat dijual dengan harga mahal.

Saat ini, banyak populasi monyet yang terkurung dalam kantong-kantong hutan yang kecil.  Populasi yang paling besar terdapat di Tangkoko, Manembonembo, dan Gunung Ambang.  Sedangkan yang yang lebih kecil terpencar di hutan-hutan yang lain (misalnya hutan lindung) tapi jumlahnya masih belum diketahui.  Sangatlah penting untuk melakukan pemantauan terhadap populasi yang ada dalam hutan-hutan seperti ini.

Ancaman yang lain terhadap monyet adalah penangkapan hidup-hidup untuk perdagangan binatang piaraan.  Pada tahun 1980, jumlah monyet yang dipelihara di lembah Dumoga saja mencapai 100 ekor.  Memelihara monyet sebenarnya berbahaya bagi manusia karena monyet ini diketahui membawa virus Herpes Simian type B yang mematikan!

Kutipan :
Teguh, H., Manoppo, R., Siwu S. (2001)  Mengenal Beberapa Satwa Sulawesi Utara dan Gorontalo.  WCS-IP Sulawesi.  Manado.

 
< Prev

Tag: Yaki; Macaca nigra;
Artikel

Mengintip Maleo Bertelur

Tanjung Binerean: A Promising Maleo Conservation Site

Burung Sebagai Simbol Budaya dan Religi(*)

"Minahasa" Pasar Satwa Liar

Tinjauan Singkat Keragaman Hayati Sulawesi Utara

Bagaimana Pulau Sulawesi Memiliki Keunikannya Yang Sekarang?

Perjuangan Seekor Anak Maleo

Antara Tanjung Panjang dan Panua: Catatan singkat dari cagar alam yang terlupakan

Konservasi Keanekaan Hayati Sulawesi

     
     
     
         
Beranda | Tentang CeleBio | Hubungi Kami | Login
 
© CeleBio2010 | Jl. Sam Ratulangi No.41 Manado95111 | Telp./Fax. +62 431 8880441 | Email: info@celebio.org