<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rdf:RDF
	xmlns="http://purl.org/rss/1.0/"
	xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel rdf:about="http://www.celebio.org">
		<title>Celebio | Celebes Biodiversity | Portal Keanekaan Hayati Sulawesi</title>
		<description>Portal Keanekaan Hayati Sulawesi</description>
		<link>http://www.celebio.org</link>
	   <dc:date>2010-09-11T04:58:29+01:00</dc:date>
		<items>
			<rdf:Seq>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/42/40/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/41/40/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/40/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/39/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/38/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/37/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/36/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/35/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/34/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/33/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/32/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/31/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/30/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/29/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/28/54/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/27/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/26/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/25/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/24/39/"/>
				<rdf:li rdf:resource="http://www.celebio.org/content/view/23/40/"/>
			</rdf:Seq>
		</items>
	</channel>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/42/40/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2010-06-24T14:08:03+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Binerean Integrated Community Based Conservation Program: A three day intensive campaign!</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/42/40/</link>
		<description>Goal: To establish a condusive environment to  prepare for coconut, maleo-conservation based ecotourism development in Binerean.    Introduction    Tanjung Binerean and the surrounding areas have  been identified as a important, healthy and socially potenial to develop a  maleo conservation program which is then will be a powerful tools to raise  local awareness on nature conservation. The site expanding from Lagamuru to iGualo. A  land next to Tanjung Binerean called Tanjung Lagamuru is mainly covered by thick  grasses. There is a swamp in the middle. Some coconut trees grow on the northern  side of the swamp. The total area hosts about 15 maleo nesting pits The hill  between Binerean and Lagamuru is an excellent, pleasant site for monitoring.  iGualalo is a maleo nesting ground, located at the other end the coast line from Binerean. The whole coast line can be managed for maleo and turtle conservation. Binerean (or Lagamuru) in one end (North) and Gualalo at  the other one (South).   Next to, south of Gualalo there is a stunning cape  called Tanjung Tolu. Tolu is covered with patches of secondary forest with some remnant of big, old native trees. The coast line is nice with mangroves  and the water seems to be plenty of fish.    The whole potentials are situated in one village,  Mataindo in Kabupaten Bolmong Selatan. There is no proper information on natural resource potential in the area. There is no spatial planning of the  area. There is no analysis for the potential development of the area. The proposed  program is a preparatory activity to develop the Village to be a community based tourism site  to support maleo conservation.     Objective 1:To produce a natural resource  management map of Mataindo Village  Activity: (1) participatory mapping programLocation and date: Mataindo village hall, 6-7 Juli  2010Needs: Computer, printer, LCD projector.PIC: Big Antono, Christian Sumampow, Denny Piara  dan Novrianto Mamonto          Objective 2: To raise local conscious on  sustainable development, the environment and conservation programs  Activity: (1) movie presentation; (2) School visitLocation and date: Mataindo Village; 6-7- Juli 2010Needs: Screen, LCD Projector, movie.PIC: Vicky Soleman, Deyce Lohonsili, Fahmy  Damogalat, Steven Siwu dan David Kosegeran          Objective 3: To strengthen local knowledge about  the important of preserving maleos and their habitats.  Activity: (1) Maleo conservation awareness programLocation and date: Mataindo Village, 6-7 Juli 2010Needs: Conservation signsPIC: Iwan Hunowu, Usman Laheto, David Kosegeran.          Objective 4: To identify marine tourism potential  in Binerean Cape and the neighbouring coastline  Activity: (1) Rapid assessment of biological  richnes and local distribution of coral, fish, and mangrove species; (2) Training of manta-tow methods for rapid assessment.Location and Date: Coastline between Binerean Cape...</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/41/40/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2010-02-19T10:46:39+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>1st International Maleo Conference</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/41/40/</link>
		<description>Manado, 24-26 Maret 2010Diselenggarakan oleh:Kelompok Kerja Maleo IndonesiaDidukung oleh:WCS, EGP, WWF Netherland, Birdlife, ALTO, NSIV, Van Tienhoven Tentang Konferensiplatform konservasi maleo yang pertama (60 peserta, Indonesia dan asing);peluncuran &amp;lsquo;The Handbook for Maleo Conservation&amp;rsquo;;platform penting untuk pemerintah, media, LSM, untuk mengangkat burung langka, hubungannya dengan umat manusia dan kebutuhan konservasi;sesi khusus tentang 25 tahun konservasi Maleo, termasuk konferensi pers;tanggal pelaksanaan 24-25-26 Maret 2010;alamat: Alamanda Resort, Tomohon Konferensi Internasional Maleo yang pertama kali yang akan meletakkan landasan untuk LSM, komunitas lokal, dan badan pemerintah untuk menampilkan hasil 30 tahun konservasi maleo. Kekuatan yang dimiliki konferensi ini adalah diseminasi usaha dan karya konservasi maleo kepada masyarakat luas dengan bantuan media masa. Pusat perhatian akan tercurah pada penguatan program yang sudah ada di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Konferensi akan mempresentasikan (1) kegiatan konservasi di lapangan, (2) komunikasi, pendidikan, dan penyuluhan, dan (3) sains. Diharapkan bahwa media akan memberikan perhatian dan menyoroti konferensi ini dalam konteks keunikan burung Maleo. Sesi spesial akan diselenggarakan termasuk konferensi pres untuk penyebaran informasi penting yang berhubungan dengan maleo dan konservasinya. Diharapkan ada 60 peserta: sebagian besar datang dari Sulawesi, beberapa dari bagian Indonesia lainnya, dan sejumlah peserta asing yang selama ini telah aktif bekerja di Sulawesi. Sesi khusus yang mengangkat 25 tahun konservasi Maleo akan dihadiri oleh 100 peserta. Keunggulanhanya ditemukan di Sulawesi;jenis satwa unggulan yang paling terkenal dari Sulawesi;tradisi pengambilan telur yang panjang;model perangko dan kartu telpon, dan simbol institusi;objek primer pariwisataMaleo adalah satwa liar unggulan Sulawesi yang paling terkenal. Burung ini hanya ditemukan di Sulawesi. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa dihidupi oleh maleo. Maleo hidup di hutan tropis dan menimbun telur-telurnya di tanah yang dihangati oleh panas vulkanik atau di pantai yang terpapar cahaya matahari penuh. Komunitas lokal mengumpulkan telur di alam untuk konsumsi dan dulu telur maleo pernah diperdagangkan di pasar-pasar. Distribusi yang terbatas, prilaku peneluran yang unik, dan kebiasaan pengumpulan telur telah mengangkat maleo menjadi simbol sejati satwa liar Sulawesi. Sudah sewajarnya jika maleo kemudian muncul di perangko, kartu telpon, dan nama jalan. Bahkan, ada banyak perusahaan yang dinamai dengan nama burung ini. Untuk para pecinta satwa dan alam liar, Maleo telah menjadi target wisata utama.Populasi berkuranghabitat menghilang secara cepat;populasi menurun dari 25.000 menjadi kurang dari 14.000 ekor;diklasifikasi &amp;lsquo;terancam punah&amp;rdquo; dalam IUCN Red List 2008Terlepas dari kebutuhan habitat maleo yang sangat khusus yang mencakup hutan alam dan lahan peneluran di hutan pedalaman dan pantai terbuka, laju kepunahan habitat ini sangatlah tinggi. Lalu, populasi juga turun drastis dalam beberapa dekade terakhir ini dari perkiraan 25.000 menjadi kurang dari 14.000 burung. Pengumpulan telur adalah penyebab utama dari penurunan ini. Akibat yang nyata adalah Maleo telah menghilang sama sekali dari banyak kawasan di Sulawesi. Maleo dimasukkan dalam kategori &amp;ldquo;terancam punah&amp;rdquo; (Endangered) secara global dalam daftar IUCN Red List 2008.Usaha Konservasiprogram konservasi terutama oleh pelaku asing 1978-2000;inisiatif baru oleh pelaku konservasi lokal sejak 2000Ketika menjadi jelas bahwa jumlah maleo semakin menurun, inisiatif konservasi langsung bergerak. Abdul Uno adalah yang pertama pada tahun 1949. Sebagai Kepala Kantor Kehutanan di Gorontalo beliau mengangkat...</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/40/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2008-03-04T15:14:27+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Mengintip Maleo Bertelur</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/40/39/</link>
		<description>  Hungayono, pagi hari, 16 Januari 2008. Seekor Maleo jantan, tampak dari warna jingga mencolok di dada, bergerak perlahan di antara tumbuhan perdu bercampur semak. Di depannya tampak sang betina, dengan bagian dada lebih putih, berjalan di antara rerumpunan bambu. Berjalan beriringan, sang jantan sesekali mengangkat kepala, tampak siaga terhadap ancaman. Mereka bergerak menuju lubang bertelur.   Sang betina mengajak pasangannya agar mendekat. Sang jantan tampak enggan, hanya bergerak perlahan menunggu pasangannya. Kemudian sepasang burung ini jalan berdampingan, mengelilingi hampir seluruh luas lokasi peneluran. Mereka mengawasi keadaan lubang-lubang sekitarnya. Maleo jantan  kadang berlari kecil saat ditinggal betina, agar bisa selalu mendampingi pasangannya.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/39/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2008-02-15T09:18:08+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Tanjung Binerean: A Promising Maleo Conservation Site</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/39/39/</link>
		<description>    (c) WCS, Big AntonoBinerean Beach is part of Tanjung Binerean in Pinolosian, North Sulawesi. It is located about 300 km South from Manado and 100 km from the WCS managed Tambun Nesting Ground in the Bogani nani Wartabone National Park. The geographical coordinates are 0&amp;deg;24&amp;#39;6.32 N; 124&amp;deg;16&amp;#39;32.53 E. It is made of 2.7 km white sandy beach,  a pleasant water for swimming, snorkling, and deep fishing with water temperature never goes below 25 Celcius degree.   </description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/38/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2008-02-01T15:28:18+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Burung Sebagai Simbol Budaya dan Religi(*)</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/38/39/</link>
		<description>&amp;ldquo;Tuit&amp;hellip;&amp;hellip;&amp;hellip;&amp;hellip;.Tuit&amp;hellip;&amp;hellip;&amp;hellip;..Tuit&amp;hellip;&amp;hellip;.&amp;hellip;.Twit&amp;hellip;&amp;hellip;Twitt&amp;hellip;..Twitt&amp;hellip;..Twit&amp;hellip;..Twit&amp;rdquo;     Suara itu kembali terdengar, setelah sekian lama tak pernah lagi mendengar bunyinya.  Teringat akan masa kecil pada sebuah kampung di pelosok Jakarta. Suara itu begitu akrab. Waktu dulu, orang-orang kampung bilang itu burung orang mati. Suaranya dipercaya sebagai pertanda akan ada orang yang mati dalam waktu dekat di kampung tersebut. Entah benar atau tidak, sampai hari ini tidak tahu pasti. Namun setelah beberapa kali mengikuti survey WCS di TN. Bogani Nani Wartabone, misteri itu  menjadi sedikit lebih terkuak mengenai keberadaan burung tersebut. Nama burung itu adalah Cocomantis sepulcralis atau Wiwik uncuing yang memang  termasuk burung yang sulit dilihat. </description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/37/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2008-02-01T13:08:32+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>&quot;Minahasa&quot; Pasar Satwa Liar</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/37/39/</link>
		<description>  Minahasa merupakan salah satu wilayah didalam propinsi Sulawesi Utara, yang terbagi atas empat kabupaten yakni; Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Utara dan Minahasa Tenggara serta satu kota yaitu Kota Tomohon. Kata Minahasa berasal dari konfederasi masing-masing suku-bangsa dan patung-patung yang ada jadi bukti sistem suku-suku lama.    Minahasa dikenal karena tanahnya yang subur dan merupakan tempat tinggal dari berbagai jenis tanaman dan satwa liar baik di darat maupun di laut. Minahasa juga dahulunya dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan sayuran. Sisa-sisa bekas perkebunan kopi pada jaman penjajahan Belanda masih dapat ditemui dibeberapa desa di Minahasa.  </description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/36/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-12-03T07:43:06+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Burung Hantu Mongondow</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/36/54/</link>
		<description>  Foto: Jon Riley, WCS-IP Sulawesi.Sejarah AlamBurung hantu mongondow (Ninox ios) ditemukan tahun 1985 di dekat Toraut, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, oleh seorang peneliti Belanda.  Namun selama lebih dari sepuluh tahun berikutnya, burung ini masih belum mendapatkan nama ilmiah karena ada beberapa keraguan.  Setelah tahun 1999 burung ini dianggap sebagai species yang berdiri sendiri dan mendapatkan nama ilmiah.  November 1999, burung ini ditemukan di Cagar Alam Gunung Ambang, kali ini tertangkap oleh jaring penelitian WCS.  Temuan ini menambah beberapa informasi (yang sebelumnya tidak ada) bagi jenis ini.Burung ini berwarna coklat kekuningan dengan bintik-bintik putih besar di bahu dari sayap.  Matanya berwarna kuning mencolok dan kakinya terlihat ramping.  Berdasarkan apa yang diketahui saat ini, Burung hantu mongondow adalah endemik untuk Sulawesi Utara.  Burung ini berkerabat dekat dengan burung hantu lain yang juga endemik, yaitu punggok oker (Ninox ochracea) yang terdapat di hutan dataran rendah seluruh Sulawesi.  Sangat sedikit yang diketahui tentang ekologi burung ini, akan tetapi kedua penemuan burung ini terjadi di hutan primer pada ketinggian 1.200 sampai 1.450 m di atas muka laut. </description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/35/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-11-08T09:43:19+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Rangkong</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/35/54/</link>
		<description>  Ilustrasi: Donald BasonSejarah AlamBurung paling menonjol dan mengagumkan di Sulawesi Utara adalah Burung taong atau Rangkong (Rhyticeros cassidix).  Burung jantan dan betina mempunyai bulu yang berbeda.  Burung jantan mempunyai leher dan kepala yang berwarna coklat kekuningan dengan casque merah besar di atas paruh, sedangkan burung betina memiliki  bulu hitam seluruhnya dengan casque kuning yang lebih kecil.Masa berbiak merupakan masa yang paling sulit bagi betina Burung taong.  Mereka bertelur pada lubang-lubang di atas pohon di dalam hutan.  Setelah mendapatkan lubang yang cocok, burung betina akan masuk ke dalamnya dan menutup pintu lubang dengan lumpur.  Hanya sebuah celah kecil saja yang disisakan pada penutup ini.  Selama 40 hari masa pengeraman, dan selama anaknya tumbuh, burung betina akan tinggal di dalam lubang ini, dan makanannya tergantung pada suplai dari burung jantan.  Jadi, celah ini merupakan satu-satunya pemandangan dunia luar yang dilihat oleh betina selama masa berbiak yang panjang itu. </description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/34/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-10-29T07:46:53+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Duyung</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/34/54/</link>
		<description>  Ilustrasi: Donald BasonSejarah AlamDuyung (Dugong-dugong) atau sapi laut adalah binatang menyusui yang hidup di laut.  Binatang menyusui atau mamalia adalah binatang berdarah panas yang memiliki kelenjar penghasil susu.Bagian atas tubuh Duyung berwarna abu-abu kecoklatan sedangkan bagian bawah berwarna lebih cerah.  Panjang tubuh binatang dewasa adalah 240&amp;ndash;270 cm dan beratnya 230&amp;ndash;360 kg.  Makanannya rumput laut yang mudah dicerna seperti Thalassia hempricii, Halophila ovalis, dan Cymodacea sp.  Duyung dapat mencapai usia 15-17 tahun. </description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/33/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-10-22T08:20:04+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Kelelawar Talaud</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/33/54/</link>
		<description>  Foto: Jon RileySejarah AlamKelelawar talaud (Acerodon humilis) adalah kelelawar buah besar yang endemik untuk pulau Karakelang dan Salibabu di kepulauan Talaud.  Binatang ini mempunyai tubuh yang berwarna abu-abu gelap dengan bintik-bintik bulu yang abu-abu dan putih.  Pada bagian leher terdapat kalung berwarna coklat merah cerah yang melebar hingga ke telinga.Sangat sedikit yang diketahui mengenai kelelawar ini.  Deskripsi pertama mengenai binatang ini dibuat pada tahun 1909, namun sampai beberapa tahun lalu binatang ini masih merupakan misteri.  Hingga tahun 1999 ada peneliti yang melihatnya di Karakelang.  Saat itu tiga ekor yang ditemukan, ketiganya ditangkap oleh pemburu dengan menggunakan jaring.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/32/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-10-08T07:37:50+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Anoa</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/32/54/</link>
		<description>  Ilustrasi: Donald BasonSejarah AlamSaat ini, ada dua jenis anoa (Bubalus spp.) yang kita kenal, yakni Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa gunung (B. quarlesi).  Namun, para ahli memperdebatkan apakah keduanya jenis yang berbeda atau tidak.  Kedua jenis ini sama-sama memiliki tubuh berwarna coklat/hitam.  Panjang tubuhnya 160-170 cm, tinggi bahunya kira-kira 1 meter, dan tanduknya berbentuk kerucut.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/31/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-10-01T08:01:25+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Babirusa</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/31/54/</link>
		<description>  Ilustrasi: Donald BasonSejarah AlamBabirusa (Babyrousa babyrussa) tersebar di seluruh Sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara, serta pulau-pulau Togian, Sula, dan Buru.  Di Sulawesi Utara, terdapat dua anak-jenis Babirusa, yakni Babyrousa babyrussa babyrussa dan Babyrousa babyrussa celebensis.  Panjang badan dan kepala Babirusa adalah 85-100 cm, ekornya 25-30 cm, dan beratnya dapat mencapai 100 kg.  Babirusa memiliki kulit yang kasar berwarna keabu-abuan dan hampir tak berbulu.  Ciri yang paling menonjol dari binatang ini adalah taringnya.  Taring atas Babirusa tumbuh menembus moncongnya dan melengkung ke belakang ke arah mata.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/30/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-09-24T14:16:32+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Musang Sulawesi</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/30/54/</link>
		<description>Sejarah Alam  Foto: Camera Trap, WCS-IP SulawesiMusang sulawesi, Macrogalidia musschenbroekii, merupakan satu-satunya binatang pemakan daging (karnivora) yang endemik untuk Sulawesi.  Binatang ini merupakan jenis mamalia darat yang paling tidak dikenal dari Sulawesi.Panjang tubuhnya adalah antara 65 sampai 71 cm (tanpa ekor) dan beratnya antara 3,8 hingga 6,1 kg.  Bagian atas tubuhnya berwarna coklat muda hingga coklat tua, sedangkan bagian bawah berkisar dari kuning kecoklatan sampai keputihan.  Bagian dadanya berwarna kemerahan dengan bintik-bintik coklat sempit, sedangkan pada sisi tubuh dan bagian punggung terdapat garis-garis, dan ekornya bergelang-gelang coklat muda hingga coklat tua.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/29/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-09-12T12:35:20+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Kuskus Beruang</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/29/54/</link>
		<description>  Foto: Riza Marlon, WCSSejarah AlamKuskus Beruang atau Kuse (Ailurops ursinus) adalah salah satu dari dua jenis kuskus endemik di Sulawesi.  Binatang ini termasuk dalam golongan binatang berkantung (marsupialia), dimana betinanya membawa bayi di dalam kantong yang terdapat di bagian perut.  Panjang badan dan kepala kuse adalah 56 cm, panjang ekornya 54 cm dan beratnya dapat mencapai 8 kg.  Kuse memiliki ekor yang prehensil, yaitu ekor yang dapat memegang dan biasa digunakan untuk membantu berpegangan pada waktu memanjat pohon yang tinggi.Kuse mendiami lapisan atas dari hutan.  Makanannya terdiri dari daun dan buah, misalnya daun pohon Kayu kambing (Garuga floribunda), dan Kayu bugis (Melia azedarach) dan buah pohon Rao (Dracontomelon dao).  Kuse membentuk kelompok kecil yang hanya terdiri dari induk dan bayi.  Kecuali pada musim kawin, kuse jantan dan betina dewasa biasanya hidup sendiri-sendiri.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/28/54/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-09-12T11:58:27+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Yaki</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/28/54/</link>
		<description> Foto: Riza Marlon, WCSSejarah Alam  Yaki (Macaca nigra) atau Monyet berjambul sulawesi merupakan jenis monyet endemik Sulawesi Utara.  Populasinya hanya terdapat mulai dari ujung timur laut Sulawesi hingga ke dekat Kotamobagu.  Tubuhnya berwarna hitam seluruhnya, kecuali pada bagian pantat yang disebut inchial callosities yang berwarna kemerahan.  Panjang kepala dan badan binatang dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya bervariasi antara 4 hingga 11 kg.  Yaki hidup secara berkelompok.  Besar kelompoknya antara 5 sampai 10 ekor.  Kelompok yang besar biasanya terdiri atas beberapa pejantan dengan banyak betina dewasa.  Perbandingannya adalah satu pejantan untuk kira-kira 3 ekor betina.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/27/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-09-07T10:04:22+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Tinjauan Singkat Keragaman Hayati Sulawesi Utara</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/27/39/</link>
		<description>Saat ini, Propinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki 257 jenis burung, atau sekitar 65% dari total yang dimiliki kawasan Sulawesi (392) dan 16% dari total yang dimiliki Indonesia.  Dari jumlah itu, 89 jenis diantaranya (yakni 86% dari 103 jenis) adalah burung-burung yang endemik untuk kawasan Sulawesi, dimana 13 diantaranya tidak terdapat di bagian lain Sulawesi.  Satu diantaranya adalah Burung hantu mongondow, Ninox ios.Kedua propinsi ini juga memiliki keragaman mamalia yang relatip tinggi dengan 54 jenis mamalia darat asli, yakni kira-kira 44 % dari total yang dimiliki Sulawesi (122) atau 10% dari total yang dimiliki Indonesia (515).  Dari jumlah ini, 30 diantaranya (55%) bersifat endemik untuk kawasan Sulawesi, seperti Babirusa (Babyrousa babyrussa), Anoa (Bubalus spp.) serta dua jenis monyet (Macaca nigra dan M. nigrescens; keduanya endemik untuk kedua propinsi ini).</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/26/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-09-07T09:58:29+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Bagaimana Pulau Sulawesi Memiliki Keunikannya Yang Sekarang?</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/26/39/</link>
		<description>Pada masa-masa awal sejarahnya, bumi konon hanya terdiri dari satu benua saja, yaitu super-benua Pangea.  Kira-kira 240 juta tahun yang lalu, super-benua ini pecah menjadi dua bagian, yakni Laurasia di bagian utara dan Gondwana di bagian selatan.  Gondwana kemudian pecah menjadi beberapa bagian, diantaranya ada yang menjadi benua Australia.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/25/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-08-14T12:36:33+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Perjuangan Seekor Anak Maleo</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/25/39/</link>
		<description>Lucu dan imut, itulah kesan pertama kali saat saya melihat anak maleo yang baru menetas. Namun hal yang lebih mengesankan dan membuat saya terkagum-kagum adalah saat melihat proses si anak maleo keluar dari dalam tanah setelah melewati masa  pengeraman . Rasa kagum itu semakin bertambah begitu melihat si anak maleo yang baru saja mencapai permukaan tanah tersebut ternyata sudah bisa terbang. Ya, terbang. Tak seperti layaknya anak unggas pada umumnya yang butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa terbang. Begitulah keistimewaan anak maleo.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/24/39/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-08-14T08:15:28+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Antara Tanjung Panjang dan Panua: Catatan singkat dari cagar alam yang terlupakan</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/24/39/</link>
		<description>&amp;ldquo;Kawan&amp;hellip;.pernah dengar Cagar Alam  Tanjung Panjang?&amp;rdquo;     &amp;ldquo;Belum&amp;hellip;.dimana ya?     &amp;ldquo;Masa &amp;hellip;.di Pohuwato!&amp;rdquo;     &amp;ldquo;Ah yang bener&amp;hellip;.yang kita tahu di Pohuwato cuma ada Cagar Alam Panua&amp;rdquo;.Setelah mereka ceritakan tentang kondisinya, yang membuat  penasaran menggelembung dalam rasa, maka saya putuskan untuk berangkat kesana. Berikut kisahnya. Kunjungan ke CA Tanjung Panjang dan CA Panua yang terletak di kabupaten Pohuwato propinsi Gorontalo dilaksanakan pada tanggal 12 &amp;ndash; 13 Juni 2007. Kunjungan ini terlaksana atas kerjasama dari teman-teman Japesda Gorontalo, khususnya MR Catur dan teman-teman LSM lokal di kota Marisa, khususnya Ansar. Berikut informasinya.</description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.celebio.org/content/view/23/40/">
		<dc:format>text/html</dc:format>
		<dc:date>2007-08-14T08:04:11+01:00</dc:date>
		<dc:source>http://www.celebio.org</dc:source>
		<title>Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga</title>
		<link>http://www.celebio.org/content/view/23/40/</link>
		<description>Untuk yang kesekian kalinya banjir menerjang lembah Dumoga. Masih belum pupus dari ingatan, akibat hujan yang berlangsung terus menerus di sekitar bulan Mei - Juni 2006 yang lalu, menyebabkan sungai Dumoga meluap. Akibatnya desa-desa yang ada di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Dumoga tenggelam. Ribuan warga, ratusan rumah, maupun harta benda lainnya menjadi korban amukan sungai tersebut. Waktu itu meluapnya sungai Dumoga turut meluluhlantakan lokasi peneluran burung maleo di Muara Pusian (MP), yang berada tepat di pinggiran sungai. Selain lokasi peneluran alamiah, beberapa hatchery yang berisi puluhan butir telur pun tidak luput menjadi korban. </description>
	</item>
</rdf:RDF>
