Beranda
CeleBio
Berita

Binerean Integrated Community Based Conservation Program: A three day intensive campaign!

1st International Maleo Conference

Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga

Belajar dan Bermain di Alam

Pendidikan Keragaman Hayati untuk Siswa SMA se Kotamobagu

Maleo 4000
Download sekarang

Ingin tahu lebih jauh mengenai Maleo? Silahkan download booklet dan poster mengenai Maleo dan usaha konservasinya di Sulawesi.

Booklet: konservasi Maelo

 

 
Poster Maleo
     

Burung Sebagai Simbol Budaya dan Religi(*) PDF Print E-mail
Written by Danny Rogi   
Friday, 01 February 2008

“Tuit………….Tuit………..Tuit…….….
Twit……Twitt…..Twitt…..Twit…..Twit”


     Suara itu kembali terdengar, setelah sekian lama tak pernah lagi mendengar bunyinya.  Teringat akan masa kecil pada sebuah kampung di pelosok Jakarta. Suara itu begitu akrab. Waktu dulu, orang-orang kampung bilang itu burung orang mati. Suaranya dipercaya sebagai pertanda akan ada orang yang mati dalam waktu dekat di kampung tersebut. Entah benar atau tidak, sampai hari ini tidak tahu pasti. Namun setelah beberapa kali mengikuti survey WCS di TN. Bogani Nani Wartabone, misteri itu  menjadi sedikit lebih terkuak mengenai keberadaan burung tersebut. Nama burung itu adalah Cocomantis sepulcralis atau Wiwik uncuing yang memang  termasuk burung yang sulit dilihat.

Kepercayaan diseputar burung memang banyak dan tidak ada habisnya untuk dijadikan sumber cerita. Ingat film “ The Crows “ yang diperankan Brandon Lee (anak Bruce Lee ). Di film tersebut sang tokoh selalu ditemani oleh seekor gagak dan dipercaya rohnya ada pada burung gagak tersebut. Seiring dengan misteri yang menyelimuti pembuatan film ini ternyata bintang utamanya benar-benar tewas akibat terkena peluru dalam salah satu adegan. Percaya atau tidak, apakah ini murni  sekedar kecelakaan? Atau ada faktor-faktor lainnya ?

Kelebihan Burung
     Terlepas dari berbagai cerita diatas, dalam sejarah tidak ada hewan yang begitu dekat hubungannya atau begitu akrab dengan manusia selain burung. Banyak inspirasi terlahir darinya. Sebagai simbol, legenda, mitos, cerita rakyat, juga seni dan ilmu pengetahuan. Sejak awal peradaban manusia burung sudah begitu dikenal, sebagai simbol perdamaian sekaligus peperangan. Subyek dari seni,  obyek study juga sport. Semuanya dapat dijadikan sumber imajinasi, dari kemolekannya yang ragam, keindahan warna bulu, cara terbang serta nyanyiannya.

     Burung dapat ditemukan di seluruh penjuru dunia. Snowy Owls ( Burung hantu salju ) di wilayah kutub Arctic, Black Bellied Sandgrouse ( Burung Gurun ) di padang pasir di Timur Tengah, White-Winged Diuca-Finch ( Burung Gunung ) di dataran tinggi Andes Peru, Pinguins di Samudera Antartika, Huge Eagles ( Burung Elang ) dan  Parrots di seluruh kawasan hutan hujan di dunia, serta daerah lainnya, burung-burung tersebut dapat kita jumpai. Jenis-jenis tersebut melakukan berbagai macam perjalanan baik jarak jauh maupun dekat. Beberapa burung seperti Merpati Nicobar di Indonesia, bergerak dari pulau yang satu ke pulau yang lain, merupakan ahli navigasi, melakukan perjalanan dengan jarak yang fenomenal. The Sooty Shearwater bermigrasi dari pulau-pulau di Austalia ke teluk Kalifornia dan Oregon. The Arctic Tern dari New England ke Antartika serta The Rufous Hummingbird dari Alaska ke Mexiko.

Simbolisasi Burung dari Zaman ke Zaman
     Semua kualitas dan berbagai kelebihan burung diatas rupanya telah menimbulkan perasaan misterius dan ajaib sejak kemunculan ras manusia. Memang hampir dalam setiap kebudayaan primitif, burung selalu dihubungkan sebagai wakil dan pembawa pesan keTuhanan. Untuk memahami bahasa mereka dalam upaya mengerti keberadaan para Dewa. Cara terbang burung dapat ditafsirkan untuk meramal masa depan. Dalam bahasa kita “ Pertanda dan Perlindungan  ” secara harfiah berarti  “ Pandangan dan perkataan burung “. Sewaktu seni berpuisi di Yunani sedang mengalami kemajuan antara perkataan dan pertanda dari burung hampir sama, dan seseorang jarang menjalankan sebuah tindakan yang mempunyai konsekwensi tanpa mendapat manfaat dari pertanda dan perlindungan tersebut. Praktek ini selamanya juga berlaku di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

     Sebagai simbol sebuah ideologi dan inspirasi, burung menjadi figur umum pada banyak religi dan kebudayaan. Merpati merupakan simbol dari dewi bumi  (kesuburan ) di Mesopotamia. Di Yunani, merpati khususnya diasosiasikan pada dewi Aphrodite yaitu dewi percintaan. Sedangkan di Phoenicia, Syria dan Yunani, suara dari merpati merupakan sabda dewa yang biasanya dihubungkan dengan ramalan atau jawaban bijaksana. Dalam Islam dikatakan sebagai panggilan dari orang beriman yang berdoa, dalam Kristen merpati merupakan representasi dari Roh Kudus (Holy Spirit) dan diasosiasikan dengan  Perawan Maria. Merpati jika dihubungkan dengan ranting Zaitun maka menjadi simbol perdamaian. Kebalikannya dalam  kebudayaan awal Jepang, merpati menjadi pembawa pesan peperangan.
    
      Burung yang lain adalah burung Elang, burung ini dijadikan sebagai simbol peradaban Barat yang memang sudah digunakan sejak masa 3000 sm di Sumeria. Dalam mitologi Yunani, Elang menjadi pembawa pesan dari Dewa Zeus. Sedangkan pada zaman Romawi di Eropa, elang ( Golden eagle ), juga menjadi simbol mereka. Dan jenis ini juga dijadikan simbol perang pada banyak suku-suku Indian di Amerika Utara semasa awal pendudukan Inggris. Tahun 1782 , “ The Bald Eagle “ dijadikan simbol pada bendera US. Selain elang, yang juga termasuk dalam cerita legenda dan mitos adalah gagak atau raven. Salah satunya diceritakan sebagai berikut, sebagai pembawa pesan dewa Apolo satu kali gagak lalai dalam tugas sehingga diberikan hukuman yaitu warna bulunya yang sebelumnya putih diubah menjadi hitam. Cerita yang sama juga terjadi antara gagak dan nabi Nuh (Noah), ketika setelah berhari-hari terombang-ambing di samudera akibat banjir, maka Nuh mengutus merpati dan gagak untuk mencari daratan, namun sayangnya sang gagak tidak kembali lagi sehingga Nuh marah dan mengutuknya, maka warna bulunya yang semula putih menjadi hitam. Kepercayaan tentang warna bulu gagak ini lain ceritanya pada legenda orang-orang Eskimo yaitu warna gagak menjadi hitam akibat ditumpahkan jelaga hitam lampu minyak di sekujur tubuhnya, hal ini disebabkan percekcokkan dengan sahabat karibnya si burung hantu salju.

     Dalam legenda-legenda lainnya gagak juga sering digambarkan memainkan peran yang baik, menyenangkan dan bijaksana. Dalam cerita rakyat Indian di Amerika Utara dilukiskan umumnya gagak yang membagi-bagikan makanan bersama dengan seorang laki-laki yang datang dari arah laut.  Pada pelaut-pelaut Norse atau pelaut-pelaut Hindu yang bertualang mengelilingi sebagian dunia gagak dipercaya oleh mereka sebagai pemandu yang akan membawa ke daratan. Cerita ini juga terdengar pada masa kejayaan Alexander Agung yaitu dua ekor gagak yang menjadi pemandu pasukan mereka ketika dalam perjalanan panjangnya melintasi daerah gurun di Mesir untuk berunding dengan sang Nabi di kuil Ammon.
    
      Masih banyak lagi kepercayaan yang berkaitan dengan burung, tidak usah jauh-jauh, di daerah kita sendiri Minahasa, burung hantu atau Manguni dianggap sebagai hewan yang istimewa, punya sifat bijaksana sehingga dijadikan sebagai lambang daerah Minahasa. Bagaimana dengan daerah saudara ? mungkin menyimpan cerita yang lain.
 
     Semua cerita di atas hanya merupakan perangsang agar kita perduli dengan keberadaan burung. Lebih jauh dari itu adalah bagaimana kita mengambil langkah terhadap keberadaan burung yang sudah semakin terancam. Strategi konservasi macam bagaimana yang akan kita tempuh. Yang pasti tanpa ditunjang data dan informasi yang baik semuanya akan sia-sia. Untuk itu sekali lagi mari kita rajin-rajin turun langsung ke lapangan. Oke !!!

 

(*) diterjemahkan secara bebas dari : Ornithology (second edition), Frank B. Gill,   W.H. Freeman  & Company, New York, 1995 (xxi – xxiii)

 
< Prev   Next >

Artikel

Mengintip Maleo Bertelur

Tanjung Binerean: A Promising Maleo Conservation Site

Burung Sebagai Simbol Budaya dan Religi(*)

"Minahasa" Pasar Satwa Liar

Tinjauan Singkat Keragaman Hayati Sulawesi Utara

Bagaimana Pulau Sulawesi Memiliki Keunikannya Yang Sekarang?

Perjuangan Seekor Anak Maleo

Antara Tanjung Panjang dan Panua: Catatan singkat dari cagar alam yang terlupakan

Konservasi Keanekaan Hayati Sulawesi

     
     
     
         
Beranda | Tentang CeleBio | Hubungi Kami | Login
 
© CeleBio2012 | Jl. Sam Ratulangi No.41 Manado95111 | Telp./Fax. +62 431 8880441 | Email: info@celebio.org