|
Spesies dan Habitat -
Spesies
|
| 
| Ilustrasi: Donald Bason
|
Sejarah Alam Burung paling menonjol dan mengagumkan di Sulawesi Utara adalah Burung taong atau Rangkong (Rhyticeros cassidix). Burung jantan dan betina mempunyai bulu yang berbeda. Burung jantan mempunyai leher dan kepala yang berwarna coklat kekuningan dengan casque merah besar di atas paruh, sedangkan burung betina memiliki bulu hitam seluruhnya dengan casque kuning yang lebih kecil. Masa berbiak merupakan masa yang paling sulit bagi betina Burung taong. Mereka bertelur pada lubang-lubang di atas pohon di dalam hutan. Setelah mendapatkan lubang yang cocok, burung betina akan masuk ke dalamnya dan menutup pintu lubang dengan lumpur. Hanya sebuah celah kecil saja yang disisakan pada penutup ini. Selama 40 hari masa pengeraman, dan selama anaknya tumbuh, burung betina akan tinggal di dalam lubang ini, dan makanannya tergantung pada suplai dari burung jantan. Jadi, celah ini merupakan satu-satunya pemandangan dunia luar yang dilihat oleh betina selama masa berbiak yang panjang itu.
Di luar musim kawin burung yang berumur panjang ini dapat dilihat dalam kawanan besar, sampai sebanyak 60 ekor, pada pohon-pohon yang sedang berbuah. Burung ini sangat bergantung pada pohon beringin (Ficus spp.) yang buahnya disukai sebagai sumber makanan.  | Ilustrasi Donald Bason
|
Status Burung taong sampai sekarang masih merupakan pemandangan biasa di areal hutan di seluruh Sulawesi. Saat ini statusnya tidak terancam. Burung ini terdapat dalam jumlah besar di Cagar Alam Tangkoko dan Suaka Margasatwa Manembonembo di Minahasa. Ancaman utama bagi burung ini adalah hilangnya habitat. Burung taong membutuhkan pohon besar yang cukup tua untuk bersarang, padahal pohon-pohon semacam ini selalu menjadi sasaran penebangan. Adanya Burung taong di suatu tempat belum tentu berarti bahwa populasinya sehat. Burung ini masih bisa terlihat meskipun sebenarnya populasinya tidak lagi bisa berbiak karena pohon-pohon besar telah ditebang.
Ancaman yang lain adalah perburuan untuk hobi dan olah raga. Ukurannya yang besar merupakan sasaran empuk bagi senapan angin. Di Kabupaten Boalemo, banyak rumah yang menggantung kepala burung ini sebagai hiasan. Untungnya, banyak orang yang menanggap bahwa daging burung ini terlampau liat dan tidak enak rasanya. Ini mengurangi perburuan terhadap burung ini untuk dimakan. |