| Ilustrasi: Donald Bason
|
Sejarah Alam Duyung (Dugong-dugong) atau sapi laut adalah binatang menyusui yang hidup di laut. Binatang menyusui atau mamalia adalah binatang berdarah panas yang memiliki kelenjar penghasil susu. Bagian atas tubuh Duyung berwarna abu-abu kecoklatan sedangkan bagian bawah berwarna lebih cerah. Panjang tubuh binatang dewasa adalah 240–270 cm dan beratnya 230–360 kg. Makanannya rumput laut yang mudah dicerna seperti Thalassia hempricii, Halophila ovalis, dan Cymodacea sp. Duyung dapat mencapai usia 15-17 tahun.
Sama seperti mamalia besar yang lain, Duyung menjadi matang seksual dan bisa berketurunan pada bagian akhir hidupnya, yakni sekitar 9-10 tahun. Anak yang baru lahir berukuran panjang 100–120 cm, dan beratnya 20–35 kg. Anak ini ikut dengan induknya berenang sambil menyusu dan makan rumput laut. Walaupun Duyung adalah makhluk sosial, binatang ini seringkali tampak sendirian, dan biasanya terlihat merumput pada waktu subuh dan senja.
Duyung dapat dijumpai di perairan dangkal di Sulawesi Utara, dan saat ini sering terlihat di Taman Nasional Bunaken di sebelah timur pulau Manado Tua, dan di ujung selatan pulau Bunaken sampai ke daerah Arakan-Wawantulap. Lokasi lain yang juga dilaporkan terdapat Duyung adalah di sebelah utara pulau Karakelang, di Talaud.
Status Sampai saat ini, tidak ada perkiraan mengenai populasi Duyung di Sulawesi Utara. Juga sangat sedikit yang diketahui mengenai perpindahan serta pola makannya. Berdasarkan data-data yang ada, maka Duyung dapat dikategorikan sebagai binatang yang langka. Jaring ikan merupakan ancaman besar bagi kelestariannya. Ada beberapa insiden dimana Duyung tertangkap dalam jaring ikan, misalnya di lepas pantai Arakan-Wawantulap, Likupang, dan di sebelah timur Karakelang. Sebagai tambahan, pembudidayaan rumput laut yang sekarang meningkat di Sulawesi Utara telah menjadi penghalang bagi Duyung untuk mencapai tempat-tempat mencari makannya. |