Beranda
CeleBio
Berita

Binerean Integrated Community Based Conservation Program: A three day intensive campaign!

1st International Maleo Conference

Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga

Belajar dan Bermain di Alam

Pendidikan Keragaman Hayati untuk Siswa SMA se Kotamobagu

Maleo 4000
Download sekarang

Ingin tahu lebih jauh mengenai Maleo? Silahkan download booklet dan poster mengenai Maleo dan usaha konservasinya di Sulawesi.

Booklet: konservasi Maelo

 

 
Poster Maleo
     

Anoa PDF Print E-mail
Spesies dan Habitat - Spesies

Anoa (Bubalus spp.)

 
 Ilustrasi: Donald Bason

Sejarah Alam

Saat ini, ada dua jenis anoa (Bubalus spp.) yang kita kenal, yakni Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa gunung (B. quarlesi).  Namun, para ahli memperdebatkan apakah keduanya jenis yang berbeda atau tidak.  Kedua jenis ini sama-sama memiliki tubuh berwarna coklat/hitam.  Panjang tubuhnya 160-170 cm, tinggi bahunya kira-kira 1 meter, dan tanduknya berbentuk kerucut.

Anoa dataran rendah mempunyai bercak-bercak putih dan kuning di sepanjang kaki depannya dan ekornya lebih panjang.  Sedangkan Anoa gunung mempunyai kaki yang berwarna coklat dan ekornya lebih pendek.  Anoa biasanya hidup soliter.  Mereka memakan rumput, pakis, buah-buahan, daun palem dan umbi jahe.  Nama Anoa “gunung” dan “dataran rendah”, tidak harus berarti bahwa keduanya hidup di ketinggian yang berbeda.  Keduanya bisa dijumpai di habitat gunung maupun dataran rendah.

Anoa biasanya menghindari manusia serta habitat-habitat yang terganggu, walaupun, di beberapa desa di sekitar hutan Gunung Ambang dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, orang menjumpai anoa di kebun-kebun pinggir hutan.  Anoa agaknya menyukai genangan air dan lumpur, dan terutama mata air atau tetesan air yang mengandung mineral.  Mereka juga pernah dilaporkan meminum air laut.  Ini mungkin untuk memenuhi kebutuhan mineral di tempat-tempat yang tidak ada mata air mineral.

Status

Sebagaimana halnya dengan mamalia besar lain di Sulawesi bagian utara, perburuan merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup anoa.  Pemburu-pemburu anoa umumnya menggunakan jerat atau menggunakan anjing dan tombak.  Mereka juga suka membakar tempat-tempat yang berumput supaya bertumbuh rumput muda yang akan menarik perhatian anoa.

Ancaman lain bagi anoa adalah kehilangan habitat.  Kehilangan habitat menyebabkan anoa terkurung dalam blok-blok hutan yang sempit.  Selama beberapa tahun terakhir, anoa hanya beberapa kali saja dijumpai di hutan-hutan lindung Sulawesi Utara.  Survei WCS-IP Sulawesi di Cagar Alam Gunung Ambang pada tahun 1998 hanya menemukan beberapa jejak anoa saja.  Jejak anoa umum ditemukan di bagian pedalaman Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta Cagar Alam Panua, tetapi di hutan-hutan Minahasa kami tidak pernah menjumpainya maupun jejaknya.

Wawancara yang dilakukan pada tahun 1998 mengungkapkan bahwa sejumlah anoa pernah dibunuh oleh penduduk desa yang tinggal dekat Cagar Alam Gunung Ambang.  Selain itu, tim peneliti WCS-IP Sulawesi juga pernah melihat daging anoa dijual di pasar Gorontalo, Imandi, Langoan dan Tomohon.  Berdasar hasil pengamatan langsung serta melalui hasil jepretan kamera-trap, ada harapan bahwa anoa memiliki kesempatan hidup yang lebih besar di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Cagar Alam Panua.

 
< Prev   Next >

Tag: Anoa (Bubalus spp.);
Artikel

Mengintip Maleo Bertelur

Tanjung Binerean: A Promising Maleo Conservation Site

Burung Sebagai Simbol Budaya dan Religi(*)

"Minahasa" Pasar Satwa Liar

Tinjauan Singkat Keragaman Hayati Sulawesi Utara

Bagaimana Pulau Sulawesi Memiliki Keunikannya Yang Sekarang?

Perjuangan Seekor Anak Maleo

Antara Tanjung Panjang dan Panua: Catatan singkat dari cagar alam yang terlupakan

Konservasi Keanekaan Hayati Sulawesi

     
     
     
         
Beranda | Tentang CeleBio | Hubungi Kami | Login
 
© CeleBio2010 | Jl. Sam Ratulangi No.41 Manado95111 | Telp./Fax. +62 431 8880441 | Email: info@celebio.org