 | Ilustrasi: Donald Bason
|
Sejarah Alam Babirusa (Babyrousa babyrussa) tersebar di seluruh Sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara, serta pulau-pulau Togian, Sula, dan Buru. Di Sulawesi Utara, terdapat dua anak-jenis Babirusa, yakni Babyrousa babyrussa babyrussa dan Babyrousa babyrussa celebensis. Panjang badan dan kepala Babirusa adalah 85-100 cm, ekornya 25-30 cm, dan beratnya dapat mencapai 100 kg. Babirusa memiliki kulit yang kasar berwarna keabu-abuan dan hampir tak berbulu. Ciri yang paling menonjol dari binatang ini adalah taringnya. Taring atas Babirusa tumbuh menembus moncongnya dan melengkung ke belakang ke arah mata.
Babirusa berkeliaran dalam kelompok kecil dan mengeluarkan suara dengus yang rendah. Organisasi sosialnya kebanyakan terdiri atas kelompok-kelompok yang dipimpin oleh induk, dan jantan yang soliter. Tidak seperti babi lain, Babirusa betina hanya melahirkan satu sampai dua ekor anak. Masa buntingnya sekitar 160 hari.
Babirusa adalah binatang yang diperkirakan aktif pada siang hari. Pada waktu mencari makan, mereka tidak menyuruk tanah seperti babi hutan, tapi memakan buah dan membelah kayu-kayu mati untuk mencari larva lebah. Mereka suka berkubang dalam lumpur dan tampaknya menyukai tempat-tempat yang dekat dengan sungai.
Status Di Sulawesi bagian utara Babirusa sangat jarang. Di Cagar Alam Tangkoko, mereka hanya tiga kali terdeteksi selama tahun 1980-an sampai pertengahan 1990-an. Di Suaka Margasatwa Manembo-nembo, mereka hanya lima kali terlihat antara tahun 1993 dan 1996. Selama survei WCS di hutan-hutan lindung Sulawesi Utara tahun 1999, tidak satu pun Babirusa yang dijumpai di Minahasa. Hal ini menguatkan dugaan bahwa binatang unik ini telah punah dari Kabupaten Minahasa.
Berkurangnya populasi Babirusa di Sulawesi Utara adalah karena perburuan yang tidak terkendali. Babirusa sering sering diburu dengan perangkap dan jerat untuk dijual di pasar-pasar daging satwa liar. Sulawesi Utara memiliki banyak pasar satwa liar dan banyak daging Babirusa yang dijual di pasar-pasar seperti itu. Antara bulan Maret 1993 dan Februari 1999, di pasar Langowan saja diperkirakan ada sekitar 850 ekor Babirusa yang telah dijual.
Faktor lain yang juga menyebabkan kepunahan Babirusa yaitu laju pembiakannya yang rendah dan rusaknya habitat. Setiap kali melahirkan, Babirusa hanya melahirkan anak yang sedikit. Ini berarti bahwa perburuan yang kecil saja sudah dapat membahayakan populasinya. Babirusa juga menyukai daerah-daerah pinggiran sungai atau kubangan lumpur di hutan dataran rendah. Padahal, kebanyakan hutan dataran Sulawesi (khususnya di bagian timur laut) telah hilang.
Satu hal yang membesarkan hati adalah adalah bahwa Babirusa sering terlihat di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Cagar Alam Panua selama survey-survey WCS. Ini menimbulkan harapan bahwa di kedua kawasan ini populasi Babirusa masih cukup besar. |