Beranda arrow Beranda
CeleBio
Download sekarang

Ingin tahu lebih jauh mengenai Maleo? Silahkan download booklet dan poster mengenai Maleo dan usaha konservasinya di Sulawesi.

Booklet: konservasi Maelo

 

 
Poster Maleo
     

Tinjauan Singkat Keragaman Hayati Sulawesi Utara PDF Print E-mail
Berita dan Artikel - Artikel

Saat ini, Propinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki 257 jenis burung, atau sekitar 65% dari total yang dimiliki kawasan Sulawesi (392) dan 16% dari total yang dimiliki Indonesia.  Dari jumlah itu, 89 jenis diantaranya (yakni 86% dari 103 jenis) adalah burung-burung yang endemik untuk kawasan Sulawesi, dimana 13 diantaranya tidak terdapat di bagian lain Sulawesi.  Satu diantaranya adalah Burung hantu mongondow, Ninox ios.

Kedua propinsi ini juga memiliki keragaman mamalia yang relatip tinggi dengan 54 jenis mamalia darat asli, yakni kira-kira 44 % dari total yang dimiliki Sulawesi (122) atau 10% dari total yang dimiliki Indonesia (515).  Dari jumlah ini, 30 diantaranya (55%) bersifat endemik untuk kawasan Sulawesi, seperti Babirusa (Babyrousa babyrussa), Anoa (Bubalus spp.) serta dua jenis monyet (Macaca nigra dan M. nigrescens; keduanya endemik untuk kedua propinsi ini).

Sulawesi Utara dan Gorontalo juga memiliki 20 dari 24 jenis kelelawar buah (Pteropodidae) yang terdapat di kawasan Sulawesi.  Sembilan diantaranya bersifat endemik untuk kawasan Sulawesi; salah satunya adalah Kekelawar buah talaud (Acerodon humilis) yang baru ditemukan ulang belum lama ini.  Sampai saat ini, kelelawar yang langka ini hanya diketahui dari pulau Karakelang dan Salibabu (Talaud), dan baru enam kali dilihat oleh para peneliti.

Dengan adanya sejumlah penelitian yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini, pengetahuan kita mengenai keragaman hayati kedua propinsi ini juga diperkaya dengan berbagai informasi baru.  Tidak tertutup kemungkinan bahwa angka-angka di atas masih akan bertambah di waktu-waktu mendatang.  Sejak tahun 1995 sekurang-kurangnya telah ada 4 jenis burung baru yang ditemukan di Sulawesi Utara; 3 diantaranya berasal dari Kabupaten Sangihe-Talaud.  Sementara, informasi baru tentang status dan penyebaran juga harus ditambahkan untuk Kelelawar buah talaud (Acerodon humilis) dan Musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).  Ini semua dimungkinkan karena masih terdapat banyak daerah yang belum disurvey, misalnya pulau-pulau terpencil dan habitat-habitat pegunungan.

Meskipun demikian, ada fakta lain yang juga perlu dipertimbangkan dalam melihat keragaman hayati Sulawesi Utara dan Gorontalo.  Saat ini, dari keseluruhan jenis mamalia dan burung yang ada di daerah ini, 63 diantaranya tercantum dalam Red Data Book IUCN sebagai “kritis”, “genting”, dan “rentan”.  Karena penggolongan dalam Red Data Book ditetapkan melalui penilaian terhadap ukuran populasi, penyebaran, ketersediaan habitat serta kecenderungan populasi dalam menghadapi resiko kepunahan nyata, maka angka-angka di atas memberi cukup gambaran bagaimana ancaman yang dihadapi keragaman hayati Sulawesi Utara dan Gorontalo.  Beberapa jenis dari kategori tersebut bahkan telah punah di beberapa tempat.  Sebagai contoh, Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) yang kritis, saat ini dikhawatirkan telah punah dari Sulawesi Utara karena tidak pernah ada lagi laporan dalam 20 tahun terakhir.

Kutipan :
Teguh, H., Manoppo, R., Siwu S. (2001)  Mengenal Beberapa Satwa Sulawesi Utara dan Gorontalo.  WCS-IP Sulawesi.  Manado. 

 
< Prev   Next >

Tag: Tinjauan Singkat Keragaman Hayati Sulawesi Utara;

     
     
     
         
Beranda | Tentang CeleBio | Hubungi Kami | Login
 
© CeleBio2010 | Jl. Sam Ratulangi No.41 Manado95111 | Telp./Fax. +62 431 8880441 | Email: info@celebio.org