|
Download sekarang |
|
Ingin tahu lebih jauh mengenai Maleo? Silahkan download booklet dan poster mengenai Maleo dan usaha konservasinya di Sulawesi. |
|
|
|
|
|
Berita dan Artikel -
Berita
|
|
Goal: To establish a condusive environment to prepare for coconut, maleo-conservation based ecotourism development in Binerean. Introduction Tanjung Binerean and the surrounding areas have been identified as a important, healthy and socially potenial to develop a maleo conservation program which is then will be a powerful tools to raise local awareness on nature conservation. The site expanding from Lagamuru to iGualo. A land next to Tanjung Binerean called Tanjung Lagamuru is mainly covered by thick grasses. There is a swamp in the middle. Some coconut trees grow on the northern side of the swamp. The total area hosts about 15 maleo nesting pits The hill between Binerean and Lagamuru is an excellent, pleasant site for monitoring. iGualalo is a maleo nesting ground, located at the other end the coast line from Binerean. The whole coast line can be managed for maleo and turtle conservation. Binerean (or Lagamuru) in one end (North) and Gualalo at the other one (South). Next to, south of Gualalo there is a stunning cape called Tanjung Tolu. Tolu is covered with patches of secondary forest with some remnant of big, old native trees. The coast line is nice with mangroves and the water seems to be plenty of fish. The whole potentials are situated in one village, Mataindo in Kabupaten Bolmong Selatan. There is no proper information on natural resource potential in the area. There is no spatial planning of the area. There is no analysis for the potential development of the area. The proposed program is a preparatory activity to develop the Village to be a community based tourism site to support maleo conservation. Objective 1:To produce a natural resource management map of Mataindo Village Activity: (1) participatory mapping program Location and date: Mataindo village hall, 6-7 Juli 2010 Needs: Computer, printer, LCD projector. PIC: Big Antono, Christian Sumampow, Denny Piara dan Novrianto Mamonto Objective 2: To raise local conscious on sustainable development, the environment and conservation programs Activity: (1) movie presentation; (2) School visit Location and date: Mataindo Village; 6-7- Juli 2010 Needs: Screen, LCD Projector, movie. PIC: Vicky Soleman, Deyce Lohonsili, Fahmy Damogalat, Steven Siwu dan David Kosegeran Objective 3: To strengthen local knowledge about the important of preserving maleos and their habitats. Activity: (1) Maleo conservation awareness program Location and date: Mataindo Village, 6-7 Juli 2010 Needs: Conservation signs PIC: Iwan Hunowu, Usman Laheto, David Kosegeran. Objective 4: To identify marine tourism potential in Binerean Cape and the neighbouring coastline Activity: (1) Rapid assessment of biological richnes and local distribution of coral, fish, and mangrove species; (2) Training of manta-tow methods for rapid assessment. Location and Date: Coastline between Binerean Cape and Igualo, 6-7 July. Needs: pencils, waterproof spread-sheet, marked rope, meter tape. PIC: Sonny Tasidjawa and Fakhrizal Setiawan Objective 5: To implement green PNPM potential projects to Mataindo Village. Activity: (1) VCO making; (2) Energy efficient tungku development; (3) coconut charcoal making. Location and date: Mataindo Village, 6-7 July 2010. Needs: VCO equipment set, potery set, charcoal making facility PIC: Edyson Maneasa, Samsared Barahama dan Jarpuk (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) Objective 6: To establish a locally conducive social interaction and a sense of belonging to the planned programs Activity: (1) Preliminary communication and preparation, (2) fun activities including fishing, tracking, photo hunting, and snorkling. Location and date: Mataindo Village, 5-9 Juli 2010 Needs: General logistics. PIC: David Kosegeran, Synthia Soputan, Toar Unsulangi. Note: all activity should be well documented though photographs, movies, and audio recording. PIC: Big Antono General Field Schedule | Date | Activity | | 5 July 2010 | - Preparatory activity in Manado and Mataindo - Traveling to Mataindo | | 6 July 2010 | - Natural Resource Participatory Mapping Program - Awareness program on sustainable development, the environment and conservation - Maleo Awareness Program - Marine Tourism Potential Inventory Program - Green Initiative Projects (VCO, Tungku, Charcoal) | | 7 July 2010 | - Natural Resource Participatory Mapping Program - Awareness program on sustainable development, the environment and conservation - Maleo Awareness Program - Marine Tourism Potential Inventory Program - Green Initiative Projects (VCO, Tungku, Charcoal) | | 8 July 2010 | Maleo Corridor Cruising | | 9 July 2010 | Traveling to Manado | Outcome - Natural Resource Map of Mataindo Village - Maleo Corridor Tracking Map - Marine Atraction Map - Atlas of Mataindo Village For further information please contact:
Johny Tasirin Sulawesi Program Coordinator Wildlife Conservation Society-Indonesia Program Jl. Toar No. 20 Kecamatan Wenang Manado 95112 Sulawesi Utara – Indonesia Telephone: 08124301590 (HP) Email:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|
|
|
Berita dan Artikel -
Berita
|
|
Manado, 24-26 Maret 2010
Diselenggarakan oleh: Kelompok Kerja Maleo Indonesia Didukung oleh:
WCS, EGP, WWF Netherland, Birdlife, ALTO, NSIV, Van Tienhoven Tentang Konferensi - platform konservasi maleo yang pertama (60 peserta, Indonesia dan asing);
- peluncuran ‘The Handbook for Maleo Conservation’;
- platform penting untuk pemerintah, media, LSM, untuk mengangkat burung langka, hubungannya dengan umat manusia dan kebutuhan konservasi;
- sesi khusus tentang 25 tahun konservasi Maleo, termasuk konferensi pers;
- tanggal pelaksanaan 24-25-26 Maret 2010;
- alamat: Alamanda Resort, Tomohon
Konferensi Internasional Maleo yang pertama kali yang akan meletakkan landasan untuk LSM, komunitas lokal, dan badan pemerintah untuk menampilkan hasil 30 tahun konservasi maleo. Kekuatan yang dimiliki konferensi ini adalah diseminasi usaha dan karya konservasi maleo kepada masyarakat luas dengan bantuan media masa. Pusat perhatian akan tercurah pada penguatan program yang sudah ada di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Konferensi akan mempresentasikan (1) kegiatan konservasi di lapangan, (2) komunikasi, pendidikan, dan penyuluhan, dan (3) sains. Diharapkan bahwa media akan memberikan perhatian dan menyoroti konferensi ini dalam konteks keunikan burung Maleo. Sesi spesial akan diselenggarakan termasuk konferensi pres untuk penyebaran informasi penting yang berhubungan dengan maleo dan konservasinya. Diharapkan ada 60 peserta: sebagian besar datang dari Sulawesi, beberapa dari bagian Indonesia lainnya, dan sejumlah peserta asing yang selama ini telah aktif bekerja di Sulawesi. Sesi khusus yang mengangkat 25 tahun konservasi Maleo akan dihadiri oleh 100 peserta. Keunggulan - hanya ditemukan di Sulawesi;
- jenis satwa unggulan yang paling terkenal dari Sulawesi;
- tradisi pengambilan telur yang panjang;
- model perangko dan kartu telpon, dan simbol institusi;
- objek primer pariwisata
Maleo adalah satwa liar unggulan Sulawesi yang paling terkenal. Burung ini hanya ditemukan di Sulawesi. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa dihidupi oleh maleo. Maleo hidup di hutan tropis dan menimbun telur-telurnya di tanah yang dihangati oleh panas vulkanik atau di pantai yang terpapar cahaya matahari penuh. Komunitas lokal mengumpulkan telur di alam untuk konsumsi dan dulu telur maleo pernah diperdagangkan di pasar-pasar. Distribusi yang terbatas, prilaku peneluran yang unik, dan kebiasaan pengumpulan telur telah mengangkat maleo menjadi simbol sejati satwa liar Sulawesi. Sudah sewajarnya jika maleo kemudian muncul di perangko, kartu telpon, dan nama jalan. Bahkan, ada banyak perusahaan yang dinamai dengan nama burung ini. Untuk para pecinta satwa dan alam liar, Maleo telah menjadi target wisata utama.
Populasi berkurang
- habitat menghilang secara cepat;
- populasi menurun dari 25.000 menjadi kurang dari 14.000 ekor;
- diklasifikasi ‘terancam punah” dalam IUCN Red List 2008
Terlepas dari kebutuhan habitat maleo yang sangat khusus yang mencakup hutan alam dan lahan peneluran di hutan pedalaman dan pantai terbuka, laju kepunahan habitat ini sangatlah tinggi. Lalu, populasi juga turun drastis dalam beberapa dekade terakhir ini dari perkiraan 25.000 menjadi kurang dari 14.000 burung. Pengumpulan telur adalah penyebab utama dari penurunan ini. Akibat yang nyata adalah Maleo telah menghilang sama sekali dari banyak kawasan di Sulawesi. Maleo dimasukkan dalam kategori “terancam punah” (Endangered) secara global dalam daftar IUCN Red List 2008.
Usaha Konservasi
- program konservasi terutama oleh pelaku asing 1978-2000;
- inisiatif baru oleh pelaku konservasi lokal sejak 2000
Ketika menjadi jelas bahwa jumlah maleo semakin menurun, inisiatif konservasi langsung bergerak. Abdul Uno adalah yang pertama pada tahun 1949. Sebagai Kepala Kantor Kehutanan di Gorontalo beliau mengangkat isu tentang perlunya konservasi maleo. Setelah publikasinya yang cukup terkenal itu, ada 25 tahun terlewatkan sebelum terjadi program konservasi Maleo yang pertama (Panua, MacKinnon, 1978). Program ini kemudian diikuti dengan program lainnya pada tahun 1985/86, 1990/91 di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Sulawesi Utara. Program lain kemudian dimulai di Sulawesi Tengah (Lore Lindu). Sebagian besar program-program ini diinisiasi oleh organisasi konservasi tanah seberang. Inisiatif ini berubah pada pergantian abad ini ketika bermunculan organisasi Indonesia yang memulai program penyelamatan maleo yang dibangun berdasarkan hasil kerja MacKinnon dan yang lainnya. PALS di Manado dan AlTo di Tompotika adalah contoh inisiatif terkini yang dilakukan oleh kelompok konservasi lokal. Download 1. Undangan 2. Brosur 3. Formulir pendaftaran Kontak
John Tasirin
Wildlife Conservation Society Indonesia Program - Sulawesi Jl. Toar No.20 Manado 95111 Sulawesi Utara Indonesia Telp./Fax.: +62-431 8880441 Email:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Situs: http://www.wcsip.org/
|
|
|
Berita dan Artikel -
Artikel
|
|
Hungayono, pagi hari, 16 Januari 2008. Seekor Maleo jantan, tampak dari warna jingga mencolok di dada, bergerak perlahan di antara tumbuhan perdu bercampur semak. Di depannya tampak sang betina, dengan bagian dada lebih putih, berjalan di antara rerumpunan bambu. Berjalan beriringan, sang jantan sesekali mengangkat kepala, tampak siaga terhadap ancaman. Mereka bergerak menuju lubang bertelur. Sang betina mengajak pasangannya agar mendekat. Sang jantan tampak enggan, hanya bergerak perlahan menunggu pasangannya. Kemudian sepasang burung ini jalan berdampingan, mengelilingi hampir seluruh luas lokasi peneluran. Mereka mengawasi keadaan lubang-lubang sekitarnya. Maleo jantan kadang berlari kecil saat ditinggal betina, agar bisa selalu mendampingi pasangannya. |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 Next > End >>
| | Results 1 - 13 of 23 |
|