Beranda arrow Berita arrow Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga
CeleBio
     

Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga PDF Print E-mail
Written by Danny Rogi   
Tuesday, 14 August 2007

Banjir di Muara PusianUntuk yang kesekian kalinya banjir menerjang lembah Dumoga. Masih belum pupus dari ingatan, akibat hujan yang berlangsung terus menerus di sekitar bulan Mei - Juni 2006 yang lalu, menyebabkan sungai Dumoga meluap. Akibatnya desa-desa yang ada di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Dumoga tenggelam. Ribuan warga, ratusan rumah, maupun harta benda lainnya menjadi korban amukan sungai tersebut. Waktu itu meluapnya sungai Dumoga turut meluluhlantakan lokasi peneluran burung maleo di Muara Pusian (MP), yang berada tepat di pinggiran sungai. Selain lokasi peneluran alamiah, beberapa hatchery yang berisi puluhan butir telur pun tidak luput menjadi korban.

 

Banjir di lubang peneluran maleo di Muara PusianKali ini, tepatnya tanggal 10 Mei 2007 malam, air sungai Dumoga kembali naik. Permukaan air terus meningkat dengan cepatsampai tanggal 11Mei 2007 pagi, dan kemudian secara berangsur-angsur turun pada siang harinya. Kondisi ini terjadi karenawilayah Dumoga sejak tanggal 9 Mei 2007 malam sampai 10 Mei malam diguyur oleh hujan deras. Akibat meluapnya sungaiDumoga, walaupun tidak separah tahun lalu, dilaporkan sekitar 3 orang hilang terbawa arus sungai dan beberapa lahan yang menjadi perkebunan rakyat juga digenangi banjir. Selain itu, lokasi peneluran MP kembali diterjang oleh banjir. Lokasi berteluralami yang tersisa (lokasi bertelur di seberang sungai, yang terletak di sebelah kanan sungai jika dilihat dari arah hulu ke hilir, sudah hilang tersapu bersih oleh banjir tahun lalu) kembali terbenam oleh air. Beberapa hatchery juga tidak luput terendam olehluapan sungai. Tercatat 66 butir telur di hatchery Itundud menjadi korban, 36 butir di hatchery Pals, dan 1 ekor chick atau anakmaleo gagal keluar dari lubang.

Hatchery maleo terendam banjirBanjir telah menjadi ancaman nyata bagi warga Dumoga. Kecendrungan setiap tahun ketika datang musim hujan selalu diiringidengan banjir, baik dalam skala besar seperti tahun 2006, maupun skala kecil seperti tahun ini atau tahun – tahun sebelumnya.Sekarang ini menghadapi musim hujan, menjadi suatu ritual tahunan yang dinanti dengan harap-harap cemas. Kedatanganmusim hujan diharapkan sebagai dimulainya kembali waktu untuk musim bertanam, namun juga dicemaskan ketika hujan yang turun terlalu lama serta tinggi curahnya sehingga menimbulkan banjir dan merusak segalanya.

Kekhawatiran warga dumoga akan ancaman banjir, diduga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan proyek – proyek yang berhubungan dengan penanganan banjir di Dumoga, tanpa melalui suatu kajian yang matang. Contohnya sekarangini berkembang issue bahwa penyebab banjir besar tahun lalu di Dumoga karena disebabkan air sungai yang melewati wilayahIlansikan terlalu sempit sehingga terhambat. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melebarkan aliransungai di wilayah itu dengan jalan diledakkan.

Banjir di Muara PusianIlansikan sendiri adalah satu tempat yang persis berada di tengah – tengah lokasi peneluran MP. Dari asal usul kata, dalambahasa local (Mongondow?) ilansikan artinya tempat melompat. Menurut cerita rakyat yang berkembang di daerah ini, paraorang-orang tua dulu, ketika mereka ingin menyebrangi sungai dumoga, maka mereka akan meyebrang di daerah Ilansikan ini, karena di tempat inil lebar sungainya paling pendek. Cukup masuk akal, karena jika kita perhatikan aliran sungai dumoga yang melewati MP, maka lebar sungai di Ilansikan ini yang paling pendek, sekitar 5 m, sedangkan tempat lainnya lebar sungaiberkisar antara 20 - 30m. Kondisi ini yang membuat sebagian masyarakat Dumoga beranggapan bahwa penyebab banjir diDumoga karena disebabkan kondisi Ilansikan yang sempit. Anggapan ini semakin menguat karena umumnya masyarakatDumoga belum pernah melihat secara langsung kondisi Ilansikan yang sebenarnya.

Banjir di Muara PusianSaat ini telah dilakukan survey oleh PT Brantas, salah satu kontraktor lokal yang di ada di Dumoga (Pemilik perusahaan adalahPiet Kemur, mantan anggota dewan Bolmong). Lokasi yang di survey tepat berada di peneluran maleo MP, ditandai dengan titiktitik dalam bentuk patok kayu atau paku yang ditancap pada batu. Patok kayu atau batu tersebut di cat piloks warna merahdengan kode tulisan tertentu. Titik-titik itu menyebar di pinggir sungai mulai dari batas atas lokasi peneluran di Itundud sampaibatas akhir lokasi peneluran di Idantar, dengan jarak yang berbeda beda. Ada yang berjarak 50m, 40m, 25m, 10m, 8m, 4m, 3m. Titik terpadat berada pada lokasi Ilansikan, yang memiliki lebar sungai paling sempit.

Survey telah dilakukan oleh PT Brantas. Namun kita belum mengetahui, apakah kegiatan itu dilakukan untuk mendapatkaninformasi awal tentang penyebab banjir dan hubungannya dengan sempitnya badan sungai di tempat tersebut? Termasuk layakatau tidaknya tempat itu diledakan? Atau memang kegiatan itu dibuat sebagai bagian dari rencana peledakan yang kabarnya akan diusulkan pelaksanaannya untuk proyek tahun anggaran 2008? Kemudian kita juga belum tahu, proyek peledakan inimenjadi tanggung jawab atau kewenangan siapa? Apakah survey yang dilaksanakan oleh PT Brantas memang sudahdidasarkan adanya  instruksi resmi dari instansi pemerintah tertentu, entah itu dinas PU, dinas pengairan atau lainnya? Apakahrencana tersebut sudah melalui kajian dan pertimbangan yang masak?

Tanda-tanda pernah dilakukan survey tertentu di lokasi banjirRencana peledakan wilayah MP harus dikaji dengan matang. Kalau kita lihat kasus banjir yang terjadi tahun 2006, sertakejadian banjir tanggal 10 – 11Mei 2007 lalu, tidak terlihat sama sekali adanya aliran sungai Dumoga yang terhambat, khususnya di MP. Air sungai mengalir dengan lancar mengikuti kondisi bentang alam di sepanjang DAS Dumoga, seperti likaliku sungai, kemiringan lereng di sepanjang sungai, kedalaman sungai, lebar atau sempitnya badan sungai, dsb. Air mengalirmengikuti kecendrungan alam, yaitu selalu berupaya mencari jalannya sendiri untuk mencapai daerah yang lebih rendah. Ketikasungai Dumoga meluap, maka kondisi air sungai, seperti kecepatan dan ketinggiannya mengikuti atau menyesuaikan dengankondisi bentang alam di sepanjang sungai yang dilaluinya.

Pertanyaan besarnya adalah, benarkah banjir yang terjadi di Dumoga beberapa tahun belakangan ini, disebabkan olehsempitnya DAS Dumoga di MP (Ilansikan)? Apakah dengan diledakannya lokasi MP akan menjamin wilayah dumoga terbebasdari banjir?

Patok tanda survey tertentu di Muara PusianDi sisi lain kita juga khawatir, jangan sampai peledakan ini akan menimbulkan masalah baru, seperti semakin meluasnya  skala banjir di wilayah Lolak yang direncanakan sebagai ibukota baru dari Kabupaten Bolmong. Kita tahu persis, pada peristiwabanjir yang terjadi tahun 2006 lalu bukan hanya wilayah Dumoga yang kebanjiran, tapi juga tidak luput beberapa wilayah yang ada di kecamatan Lolak. Masalah banjir di kabupaten Bolmong, hendaknya dikaji secara komprehensif, tidak parsial, apalagisemata-mata hanya untuk mendapatkan proyek tertentu saja. Kondisi bentang alam di Bolmong, seperti geologi, topografi ataukemiringan, DAS, serta hutan merupakan faktor-faktor yang saling berhubungan. Faktor lainnya adalah hari ini kondisi hutan danDumoga sedang mengalami degradasi yang luar biasa diakibatkan oleh berbagai tekanan manusia, seperti perambahanhutan untuk dikonversi menjadi lahan perkebunan/pertanian, illegal logging, pertambangan, dsb. Semuanya harus dikaji denganutuh baik dari sisi social ekonomis maupun ekologis.  Jangan sampai hanya untuk kepentingan sesaat hari ini, menjaditersesat di hari mendatang. (DAR)

 
< Prev   Next >

Tag: Berita dan Artikel; Berita; Antara Maleo Muara Pusian dan Banjir Dumoga; nesting ground; PT Brantas;

Baca juga ...

     
     
     
         
Beranda | Tentang CeleBio | Hubungi Kami | Login
 
© CeleBio2012 | Jl. Sam Ratulangi No.41 Manado95111 | Telp./Fax. +62 431 8880441 | Email: info@celebio.org