|
Download sekarang |
|
Ingin tahu lebih jauh mengenai Maleo? Silahkan download booklet dan poster mengenai Maleo dan usaha konservasinya di Sulawesi. |
|
|
|
|
|
Bagaimana Pulau Sulawesi Memiliki Keunikannya Yang Sekarang? |
|
|
|
|
Berita dan Artikel -
Artikel
|
|
Pada masa-masa awal sejarahnya, bumi konon hanya terdiri dari satu benua saja, yaitu super-benua Pangea. Kira-kira 240 juta tahun yang lalu, super-benua ini pecah menjadi dua bagian, yakni Laurasia di bagian utara dan Gondwana di bagian selatan. Gondwana kemudian pecah menjadi beberapa bagian, diantaranya ada yang menjadi benua Australia.
Kemudian, pinggiran utara benua Australia juga pecah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil yang hanyut kesana-kemari. Kira-kira 26 juta tahun lalu ada dua potongan dari pecahan ini yang siap untuk membentuk pulau Sulawesi, yaitu potongan Sulawesi Barat (sekarang semenanjung utara dan selatan) dan potongan Sulawesi Timur (sekarang semenanjung tenggara dan tengah). Potongan Sulawesi Timur kemudian melengkung menjadi seperti mata panah yang tajamnya mengarah ke barat, lalu menabrak potongan Sulawesi Barat di bagian tengahnya. Akibatnya, potongan Sulawesi Barat ikut melengkung dan kedua potongan ini membentuk pulau Sulawesi sebagaimana yang kita lihat sekarang. Sewaktu terlepas dari Australia, potongan Sulawesi barat yang masih menyatu dengan bakal pulau Sumatera dan Kalimantan sekarang pernah hanyut dan bersentuhan dengan benua Asia. Akibatnya antara lain adalah berpindahnya binatang dan tumbuhan Asia yang sedang berevolusi ke potongan Sulawesi Barat. Sementara, potongan Sulawesi Timur sendiri merupakan potongan yang terlepas dari Irian (yang menyatu dengan benua Australia). Tentu saja potongan ini membawa tumbuhan dan binatang Australia. Dengan demikian, Sulawesi yang sekarang mewarisi fauna-flora Asia maupun Australia. Anoa (Bubalus spp.) dan Monyet (Macaca spp.) adalah contoh binatang-binatang yang nenek moyangnya berasal dari Asia. Anoa konon berasal dari sejenis kerbau Asia yang tiba di Sulawesi sekitar beberapa juta tahun lalu. Sementara nenek moyang Monyet sulawesi, yang diperkirakan berasal dari sejenis monyet di Kalimantan. Sebaliknya, Kuskus beruang (Ailurops ursinus) dan Kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis) merupakan contoh binatang-binatang yang bercikal bakal Australasia. Di Sulawesi, jenis-jenis ini mengalami pengucilan (terpisah dari populasi asalnya) dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ini membuat mereka menjadi jenis-jenis anoa, monyet dan kuskus seperti yang kita lihat sekarang, dan masing-masing mereka tidak saja berbeda dengan nenek moyangnya, tapi juga berbeda dengan kerabat-kerabatnya yang ada di Asia sekarang. Semua proses di atas menjadikan keragaman hayati Sulawesi dewasa ini kaya dan unik. Sumber: Teguh, H., Manoppo, R., Siwu S. (2001). Mengenal Beberapa Satwa Sulawesi Utara dan Gorontalo. WCS-IP Sulawesi. Manado. |
|