|
Manado, 24-26 Maret 2010
Diselenggarakan oleh: Kelompok Kerja Maleo Indonesia Didukung oleh:
WCS, EGP, WWF Netherland, Birdlife, ALTO, NSIV, Van Tienhoven Tentang Konferensi - platform konservasi maleo yang pertama (60 peserta, Indonesia dan asing);
- peluncuran ‘The Handbook for Maleo Conservation’;
- platform penting untuk pemerintah, media, LSM, untuk mengangkat burung langka, hubungannya dengan umat manusia dan kebutuhan konservasi;
- sesi khusus tentang 25 tahun konservasi Maleo, termasuk konferensi pers;
- tanggal pelaksanaan 24-25-26 Maret 2010;
- alamat: Alamanda Resort, Tomohon
Konferensi Internasional Maleo yang pertama kali yang akan meletakkan landasan untuk LSM, komunitas lokal, dan badan pemerintah untuk menampilkan hasil 30 tahun konservasi maleo. Kekuatan yang dimiliki konferensi ini adalah diseminasi usaha dan karya konservasi maleo kepada masyarakat luas dengan bantuan media masa. Pusat perhatian akan tercurah pada penguatan program yang sudah ada di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Konferensi akan mempresentasikan (1) kegiatan konservasi di lapangan, (2) komunikasi, pendidikan, dan penyuluhan, dan (3) sains. Diharapkan bahwa media akan memberikan perhatian dan menyoroti konferensi ini dalam konteks keunikan burung Maleo. Sesi spesial akan diselenggarakan termasuk konferensi pres untuk penyebaran informasi penting yang berhubungan dengan maleo dan konservasinya. Diharapkan ada 60 peserta: sebagian besar datang dari Sulawesi, beberapa dari bagian Indonesia lainnya, dan sejumlah peserta asing yang selama ini telah aktif bekerja di Sulawesi. Sesi khusus yang mengangkat 25 tahun konservasi Maleo akan dihadiri oleh 100 peserta. Keunggulan - hanya ditemukan di Sulawesi;
- jenis satwa unggulan yang paling terkenal dari Sulawesi;
- tradisi pengambilan telur yang panjang;
- model perangko dan kartu telpon, dan simbol institusi;
- objek primer pariwisata
Maleo adalah satwa liar unggulan Sulawesi yang paling terkenal. Burung ini hanya ditemukan di Sulawesi. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa dihidupi oleh maleo. Maleo hidup di hutan tropis dan menimbun telur-telurnya di tanah yang dihangati oleh panas vulkanik atau di pantai yang terpapar cahaya matahari penuh. Komunitas lokal mengumpulkan telur di alam untuk konsumsi dan dulu telur maleo pernah diperdagangkan di pasar-pasar. Distribusi yang terbatas, prilaku peneluran yang unik, dan kebiasaan pengumpulan telur telah mengangkat maleo menjadi simbol sejati satwa liar Sulawesi. Sudah sewajarnya jika maleo kemudian muncul di perangko, kartu telpon, dan nama jalan. Bahkan, ada banyak perusahaan yang dinamai dengan nama burung ini. Untuk para pecinta satwa dan alam liar, Maleo telah menjadi target wisata utama.
Populasi berkurang
- habitat menghilang secara cepat;
- populasi menurun dari 25.000 menjadi kurang dari 14.000 ekor;
- diklasifikasi ‘terancam punah” dalam IUCN Red List 2008
Terlepas dari kebutuhan habitat maleo yang sangat khusus yang mencakup hutan alam dan lahan peneluran di hutan pedalaman dan pantai terbuka, laju kepunahan habitat ini sangatlah tinggi. Lalu, populasi juga turun drastis dalam beberapa dekade terakhir ini dari perkiraan 25.000 menjadi kurang dari 14.000 burung. Pengumpulan telur adalah penyebab utama dari penurunan ini. Akibat yang nyata adalah Maleo telah menghilang sama sekali dari banyak kawasan di Sulawesi. Maleo dimasukkan dalam kategori “terancam punah” (Endangered) secara global dalam daftar IUCN Red List 2008.
Usaha Konservasi
- program konservasi terutama oleh pelaku asing 1978-2000;
- inisiatif baru oleh pelaku konservasi lokal sejak 2000
Ketika menjadi jelas bahwa jumlah maleo semakin menurun, inisiatif konservasi langsung bergerak. Abdul Uno adalah yang pertama pada tahun 1949. Sebagai Kepala Kantor Kehutanan di Gorontalo beliau mengangkat isu tentang perlunya konservasi maleo. Setelah publikasinya yang cukup terkenal itu, ada 25 tahun terlewatkan sebelum terjadi program konservasi Maleo yang pertama (Panua, MacKinnon, 1978). Program ini kemudian diikuti dengan program lainnya pada tahun 1985/86, 1990/91 di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Sulawesi Utara. Program lain kemudian dimulai di Sulawesi Tengah (Lore Lindu). Sebagian besar program-program ini diinisiasi oleh organisasi konservasi tanah seberang. Inisiatif ini berubah pada pergantian abad ini ketika bermunculan organisasi Indonesia yang memulai program penyelamatan maleo yang dibangun berdasarkan hasil kerja MacKinnon dan yang lainnya. PALS di Manado dan AlTo di Tompotika adalah contoh inisiatif terkini yang dilakukan oleh kelompok konservasi lokal. Download 1. Undangan 2. Brosur 3. Formulir pendaftaran Kontak
John Tasirin
Wildlife Conservation Society Indonesia Program - Sulawesi Jl. Toar No.20 Manado 95111 Sulawesi Utara Indonesia Telp./Fax.: +62-431 8880441 Email:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Situs: http://www.wcsip.org/
|